Image of Mengadang Pusaran

Text

Mengadang Pusaran



Mengadang Pusaran bercerita tentang tiga perempuan peranakan Tionghoa yang mewakili tiga keturunan dalam sebuah keluarga.



Pertama, Nanna, sosok ibu yang teguh memegang kebiasaan adat Tionghoa. Dia terombang-ambing dalam budaya Belanda yang diantarkan mendiang suaminya ketika menjadi pahlawan penggerebekan sarang candu besar di awal tahun 1900-an. Wali Kota Bandung menghadiahi lelaki itu kemahsyuran bagi seluruh keluarganya sehingga mendapat pendidikan Belanda, tempat tinggal, dan kedudukan layak di pemerintahan untuk anak-anak lelakinya.



Kedua, Carolien Ong atau Ong Kway Lien, anak bungsu Nanna. Dia meresapi budaya Belanda dan meninggalkan kebiasaan adat Tionghoa sepenuhnya.



Ketiga, Jenny atau Lee Siu Yin, putri tunggal Carolien yang tumbuh dalam masa peralihan zaman penjajahan dan pasca kemerdekaan Indonesia.



Latar tempat dari novel Mengadang Pusaran adalah di Kota Bandung sehingga tak sulit bagi saya untuk membayangkan peta setempat. Sedang latar waktu yang diambil antara 1932 hingga 1956. Paling akrab bagi saya adalah Christelijk Lyceum, tempat Jenny bersekolah. Sekolah itu berganti nama sebagai SMAK (Sekolah Menengah Atas Kristen) Dago. Dulu saya bersekolah di SMA 1 Bandung yang bersebelahan dengan sekolah tersebut. Pada hari-hari tertentu, saya berolahraga di lapangan sekolah itu. Sebetulnya hubungan sekolah saya dan SMAK Dago secara turun-temurun tidak baik. Seringkali kedua sekolah bertarung tanpa tahu latar belakang sejarahnya.



Kisah bergulir dari keputusan Carolien untuk menikah dengan Po Han, lelaki yang bekerja sebagai penjual mesin ketik dan juru potret lepas. Keputusan tersebut ditentang oleh keluarganya. Namun Po Han berhasil meyakinkan Carolien bahwa mereka akan hidup bahagia. Di usia tiga puluh satu tahun yang menurut hukum Belanda, seorang perempuan dapat menikah tanpa persetujuan orang tuanya, pasangan tersebut pun mengikat janji.



Setelah menikah, Carolien pindah ke rumah Po Han. Ada satu tokoh perempuan lagi yang patut dicermati yaitu Ocho, nenek Po Han. Tabiatnya yang tegas, licik, perasaan memiliki berlebihan pada cucunya, serta berpikiran kolot merupa badai tak berkesudahan bagi pernikahan pasangan tersebut.



Hingga akhirnya Po Han memilih menitipkan Ocho ke sebuah penginapan untuk melindungi Carolien dan Jenny. Namun ada kuasa politik yang disebut-sebut sebagai Zaman Meleset yang mengadang. Zaman tak menentu baik secara politik maupun keuangan. Po Han diberhentikan sebagai penjual mesin ketik dan menekuni pekerjaan juru potret. Selama empat tahun kehidupan keluarga ini di titik kemiskinan membuat Carolien jengah dan menceraikan Po Han.



Carolien kembali ke rumah Nanna dan bekerja. Po Han mendapatkan kesempatan magang di Belanda. Dan Jenny besar dalam asuhan Nanna, bibinya, dan sepupu-sepupunya. Jenny tumbuh menjadi gadis yang tajam dan pemberani.


Ketersediaan

1025003101813.3 GOU m C-1Ruang PerpustakaanTersedia
1025004102813.3 GOU m C-2Ruang PerpustakaanTersedia
1025005103813.3 GOU m C-3Ruang PerpustakaanTersedia
1025006104813.3 GOU m C-4Ruang PerpustakaanTersedia

Informasi Detil

Judul Seri
-
No. Panggil
813.3 GOU m
Penerbit Kanisius : Yogyakarta.,
Deskripsi Fisik
440 hlm.; 21 cm.
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
978-979-21-6697-2
Klasifikasi
813.3
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
Cetakan ke-1
Subyek
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain




Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaXML DetailCite this